arsip

Senin, 28 Agustus 2017

REVIEW NOVEL : The Iron King (#The Iron Fey 1)


THE IRON KING


Image result for the iron king
(sumber : google)



Detail Buku


Judul : The Iron King (The Iron Fey 1)

ISBN : 0373210086

Penulis : Julie Kagawa

Karakter :Meghan Chase, Puck, Grimalkin, Ash, Ethan Chase, Machina

Genre : Romance, Fantasy, Adventure, Young Adult

Dipublikasi pada 1 February 2010

Penghargaan : RITA Award by Romance Writer of America, Goodreads Choice Award


Sinopsis


NAMAKU MEGHAN CHASE

Kurang dari 24 jam lagi aku akan berusia enam belas tahun. Tak Terhitung cerita, lagu, dan puisi yang ditulis mengenai usia menakjubkan itu: saatnya seorang gadis menemukan cinta sejati. KURASA HAL ITU TAKAN TERJADI PADAKU.

Ada yang salah dalam kehidupan Meghan. Ia tak pernah merasa nyaman di rumah maupun di sekolah. Saat ada yang mulai mengamatinya dari kejauhan, dan sahabatnya yang jahil tiba-tiba menjadi sangat protektif terhadapnya, Meghan merasa semua yang ia ketahui akan segera berubah. Namun dirinya tidak pernah menduga bahwa dirinya adalah putri raja faery dan ia akan menjadi pion dalam perang antar faery.

Kini Meghan harus memutuskan sampai sejauh mana ia rela berkorban demi menyelamatkan orang yang sangat ia sayangi, menghentikan makhluk jahat yang tak sanggup dihadapi para faery dan mendapatkan cinta seorang pangeran muda yang justru hendak membuhuhnya


Tentang The Iron King

Pertama, aku mau kasih tahu ke kalian bahwa ini adalah salah satu novel fantasi favoritku. Banyak istilah dalam dunia fantasi yang baru aku tahu setelah membaca cerita ini. Buku ini memang sangat direkomendasikan untuk kalian para pecinta novel.

Oke, sekilas tentang pendapat aku mengenai jalan ceritanya. The Iron King merupakan salah satu cerita yang cukup membawa para pembaca terhanyut dengan petualangan Meghan di dunia Faery. Julie Kagawa patut diancungi jempol. Dan satu ciri khas buku ini adalah kembali menghadirkan para tokoh dan latar belakang dari cerita legendaris 'A Midsummer Night's Dream' karya William Shakespeare. keunikan lainnya yang cukup tersirat dalam cerita ini adalah bagaimana Julie Kagawa menggabungkan unsur klasik yang terkesan jadul dengan dunia modern.

Di mulai dari hilangnya adik Meghan Chase yang membuat Meghan Chase tersadar bahwa selama ini orang-orang yang berada di sekitarnya bukanlah makhluk biasa. Meghan diperkenalkan pada dunia yang selama ini hanya ada dalam dongeng. Di dunia ini, Meghan menyadari siapa dirinya dan apa kekuatannya. Kekuatannya ini yang para faery butuhkan.

Meghan memulai petualangannya untuk mencari adiknya yang hilang ke sebuah kerajaan baru yang sangat berbahaya ditemani seorang pangeran muda nan tampan dari kerajaan musim dingin. Menurutku, disini mulai sensasi nano-nano ketika membaca cerita ini. Sisi romantisnya dapat, Sisi fantasynya dapat, Dan sisi petualangannya pun dapat. 

Novel ini merupakan salah satu novel fantasy terbaik yang pernah aku baca. Ini adalah novel pertama aku yang mengisahkan tentang Faery. aku belajar banyak tentang mitologi Faery. jika selama ini fantasy kebanyakan dikaitkan dengan cerita tentang penyihir, werewolf, ataupun vampire, kisah The Iron King berbeda. Dalam cerita ini, sisi romantis dan permasalahan cinta segitanya pun cukup didapat meski tidak sebanding dengan trilogy The Iron Fey yang lain.

Untuk itu, akupun akan memberi rating 5/5 untuk cerita ini.

Jumat, 16 Juni 2017

Review Novel Just Listen by Sarah Dessen

51738 
(credit: Goodreads.com)

Pengarang           : Sarah Dessen

Tanggal Terbit      : 6 April 2006

Tokoh                 : Annabel Greene, Owen Armstrong, Whitney Greene, Kirsten Greene, Clarke Reynold

Setting Tempat     : LakeView, North Carolina, United States


"Don't think or judge. Just Listen."

itu adalah sepenggal kalimat yang di ucapkan oleh Annabel  kepada Owen. Simpel namun memiliki makna yang dalam. Makna yang harus dipelajari oleh setiap manusia.

Cerita ini menceritakan sudut pandang Annabel tentang kehidupannya. Setahun yang lalu, Annabel adalah seorang murid SMA yang memiliki segalanya. Dia adalah seorang bintang iklan komersial untuk sebuah brand yang cukup ternama, dia memiliki dua orang kakak yang juga memiliki hobi dalam dunia modeling, dia memiliki keluarga yang mungkin dinilai oleh orang lain sebagai keluarga yang sempurna, dan dia juga memiliki dua orang sahabat yaitu Sophie dan Clarke.

Namun, semua itu setahun yang lalu karena saat ini, Annabel bukanlah Annabel yang dulu. Dia kehilangan temannya dan seorang kakaknya menderita eating disorder.

ketika kalian baca sinopsis diatas, mungkin kalian akan mengira bahwa cerita ini seperti kebanyakan cerita pada umumnya, yaitu cerita tentang seorang gadis yang memiliki segalanya namun tiba-tiba semua menghilang dan tokoh utama menjadi depresi, namun dia menemukan cinta dan cinta itu menyembuhkan setiap luka.

Aku mau bilang bahwa kalian tidak akan menemukan hal itu dalam novel ini. Novel ini mengajarkan sesuatu yang lebih tentang kehidupan. Dan novel ini benar-benar sesuai dengan realita yang ada.

Keluarga yang terlihat sempurna belum tentu menjamin keterbukaan. Ini yang menjadi masalah utama dalam novel ini. kurangnya komunikasi dan memilih untuk menanggung beban seorang diri. Dari novel ini, aku merasa bahwa Annabel sama seperti kebanyakan remaja, yaitu sulit untuk jujur terhadap orang lain, terutama orang tuanya. Padahal kejujuran dan keterbukaan itu bisa mempermudahnya untuk menyelesaikan konflik dalam dirinya.

Novel ini mengajarkan bahwa apapun masalah yang terjadi, keluarga dan teman adalah yang terpenting. dari novel ini, ada sesuatu yang aku pelajari. sesempurna apapun keluarga yang kita miliki, akan ada saatnya kita tidak bisa menceritakan masalah dan masalah tersebut malah membebani pikiran kita.

Dipermanis dengan kisah hubungan yang dibangun antara Annabel dan Owen Armstrong, seorang laki-laki nyentrik maniak musik membuat novel ini semakin manis. Owen adalah tokoh yang mau jujur terhadap dirinya sendiri. Owen ini juga  (selain keluarga) yang nantinya akan mendorong Annabel untuk mulai terbuka, untuk mau membagi bebannya.

Satu pesan penting dari novel ini adalah, kita harus lebih banyak mendengarkan. jangan pernah langsung men-judge sesuatu sesuai dengan apa yang kita lihat!

So, tidak ada salahnya kalian baca novel ini di sela-sela waktu santai kalian karena bahasanya ringan dan ceritanya  pun gampang diterima oleh otak kita karena menceritakan tentang kejadian sehari-hari yang biasa dialami oleh para remaja




Love Never False

Love Never Wrong

But human are dumb

sometimes human are selfish

And then, love just ....... FADED
 

Selasa, 08 November 2016

THE LOST PIECE OF HEART IN NINE YEARS (POEM II)

#Love,
#AcupofCofee
#Memory




Masih ingatkah kamu? Masih ingatkah kamu akan kisah awal kita saling bertemu namun belum mengenal?

Aku ingat, Tentu saja.

Saat itu, kita masih begitu polos. Secara tidak sengaja, kita duduk di bangku yang sama dalam sebuah ibadah yang sakral.

Aku ingat, saat itu aku duduk diujung kursi dan kamu diujung yang lain. Saat itu, aku mulai tertarik dengan kehadiranmu. Ada sesuatu seperti magnet yang membuatku terus menatapmu. teman-temanmu menggangguku. Namun aku tidak peduli karena aku hanya terusik oleh kehadiranmu. Oleh wajah teduhmu yang selalu memandang ke depan.

Aku ingat. Tapi, apakah kamu ingat juga?

Sejak saat itu, aku mulai menyadari keberadaanmu. Namun aku tidak mengenalmu. Bahkan aku belum mengetahui bahwa pertemuan itu adalah bibit yang akan menggeroti hatiku dengan sebuah rasa yang abstrak. bibit yang terlempar akibat sebuah ketidaksengajaan.

Setahun berlalu. Aku dan kamu, hubungan antara kita masih sekedar bayang-bayang. Namun siapa yang menyangka? Bahwa bayang-bayang itu akan menjadi nyata. Aku dan kamu. Dalam nuansa yang mereka sebut sebagai cinta monyet.

Aku tidak berusaha untuk mencari tahu. Namun lagi, sebuah ketidaksengajaan membuatku harus tahu namamu. Nama yang dielukan oleh teman-teman sepermainanku. Nama yang ternyata adalah dirimu. laki-laki berwajah teduh itu. 

Padahal aku yakin bahwa kalian tahu aku menyukainya sejak kulihat wajah teduhnya. Namun aku selalu membantah. Teman sepermainanku mengatakan bahwa kamu memiliki pahatan yang indah di wajahmu. Namun menurut ku tidak. aku tidak menyukai keindahan. aku menyukai keteduhan.

Karena keteduhan artinya menghilangkan makna panas dan dingin.

Sejak itu. Sejak itu aku mulai menyadari apa artinya menyukai. Aku mulai memahami apa artinya merindu. Aku mulai menghayati apa artinya rasa. Dan aku mulai memahami apa artinya doa yang kulontarkan untukmu. 

Dan aku mulai menikmati hayalan tentang kita. Kita yang bersama. kita yang bahagia. Kita yang ternyata tidak pernah terwujud. 

Perlahan, aku mengetahui, rasaku terbalas. Dan aku ingat. Sangat ingat. Sangat dan sangat ingat. Aku sangat bahagia. Aku menyukaimu, dan kamu, kamu membalas perasaanku.

Apakah kamu ingat akan rasa itu? jika ya, kemana kamu sembunyikan rasa itu? jika tidak, kemana kamu buang rasa itu?

Kamu penyemangatku disaat aku membuka mata. Kamu penenangku saat ku pejamkan mata menyambut dunia mimpi yang sudah pasti dipenuhi oleh keteduhanmu.

Aku sangat bahagia. aku ingat. Namun, saat ini aku tidak tahu dimana kebahagian itu. 

Semua tidak berjalan lama. Atau mereka bilang tidak ada yang abadi. Kamu pergi, menggapai jenjang yang lebih tinggi. Dalam berbagai kesempatanpun, Kamu seakan menjauh. Dan kita yang tidak pernah menyatupun semakin melepas.

Kamu dalam dunia kegelapan dan Aku dengan hati yang masih mencari serpihan yang kamu bawa.

Sembilan tahun terlewat sudah. Serpihan hatiku tidak pernah kembali. Dan saat aku ingin memintanya lagi kepada kamu, kamu sudah memberikan serpihan hatiku kepada orang lain.

tidak tahukan kamu bahwa rasanya sakit? sembilan tahun tanpa hati yang utuh?

Tapi sepertinya kamu memang lupa terhadap rasa itu. 

Dan bodohnya, aku masih bertahan dalam rasa. Bahkan aku enggan untuk meminta pendapatmu bagaimana untuk membuang rasa ini.

Sembilan tahun. Sembilan tahun aku masih disini. Menunggu serpihan hati lain yang datang. Meski aku tahu, jika serpihan lain itu datang, hatiku sudah tidak dapat utuh lagi.

dan sembilan tahun, semua cerita ini terjadi selama sembilan tahun.

Jakarta 2007-2009 (Dedicated for the one that i waiting for but i know, he will never com)

Jumat, 07 Oktober 2016

Poem 1

i love poetry

i love to play with words

english problably not my natural language

but in english, i found my unconscious soul

and accompanied by a cup of coffe

i found another me



There are two souls who searching for an answer

Althought they know the whole truth


we never want to be in this part
never
you, and me know the truth well
but love, it had painted the different way
so we seperated away

we never make it end
never
you, and me never plan this way
but love, it was making us confuse
so we desperated

we. you and me never. We never do anything
but love, has taken it away

you, and me. we could have searched, we should have tried,
but no, we cried. And it makes no sense. It makes nothing.

in the last line, we asked each other ‘where? Where do i belong?
We asked reality
It have an answer

Sorry humans, love had stolen it from you and gave it up to me
Yes! we both know the truth

Kamis, 06 Oktober 2016

Girl On The Train : My Point of View

Hello again
now, i really want to express my point of view about the one of most-talked novel in 2016.

yeah, Let's Check This Out

Girl On The Train!!!


Image result for girl on the train review
Credit  by google image
 Nah, sebelum kita cekidot ke reviewnya, aku mau kasih tau beberapa informasi kasar tentang novel ini.

Tittle            : Girl On The Train

Author         : Paula Hawkins

Characters   : Rachel Watson, Anna Watson, Tom Watson, Megan Hipwell, Scott Hipwell, Kamal Abdic.

Setting         : London, England


Jengjeng.... itu sekilas informasi novel ini. 

Kalau pendapat aku, cerita ini biasa saja. Ya, cukup menghibur untuk menemani rasa suntuk saat sedang kena macetnya jakarta.

Cerita ini menceritakan tentang Rachel Watson. Seorang janda yang, hmm.. gimana ya ngejelasinnya? kalau aku sih menggambarkan dia sebagai tokoh yang depresi dan suka minum-minum gitu. Ketika masih di bagian awal, aku sempat berfikir kalau si Rachel ini depresi berat. kenapa? karena di awal cerita, dia selalu fokus kepada sepasang kekasih yang tinggal disebuah rumah yang selalu dilewati oleh kereta yang ditumpanginya.Megan dan Scoot. Dan rumah sepasang kekasih itu, terletak tepat di sebelah rumah mantan suaminya Tom Watson yang kini sudah menikah dengan Anna Watson.

Tentu saja, Rachel tidak mengenal siapa sepasang kekasih itu. Rachel menamai mereka dengan nama Jason dan Jess. Dan menurut Rachel, Jess dan Jason adalah pasangan yang sangat bahagia.

Tentu saja, itu hanya pandangan Rachel. Dalam cerita ini aku mendapat sebuah pembelajaran, bahwa apa yang kita lihat belum tentu sama dengan realita yang ada.

ketika aku masih baca dibagian ini. Ekspetasiku terhadap cerita ini benar-benar melambung jauh. karena memang unik sih jalan ceritanya. apalagi, sudut pandang tokoh dalam cerita ini terdiri dari 3 pov yang berbeda, yaitu Rachel, Anna, dan Megan. Ketiganya itu seperti strangers tapi mereka akan memecahkan misteri dalam cerita ini. 

Kenapa aku mengatakan buku ini biasa saja? mungkin karena kekecewaan ku terhadap akhir dari jalan ceritanya. Entah mengapa aku merasa kurang puas dengan akhirnya. meski misterinya sudah terkuak. Seperti ada yang kurang. 

lagi, kenapa aku merasa kurang puas. karena ketika membaca buku ini, aku tidak mendapatkan feel apapun. misalkan saat aku membaca romance, aku akan merasa seperti si tokoh utama yang sedang jatuh cinta. kalau aku sedang membaca historical fiction, aku akan merasa hanyut dengan latar cerita jaman dulu, jika aku membaca humor, ya bakal sering ketawa. tapi ketika aku membaca ini,  i felt nothing. meski cerita ini mengantung unsur misteri,aku tidak penasaran. Meski dugaanku ternyata salah. Tapi tetap, aku kurang puas dengan endingnya.

Tapi menurut aku, cerita ini masih termasuk worth it untuk dijadikan pengalihan rasa suntuk. mungkin karena pembawaan bahasanya yang cukup enak sehingga tidak membuat aku pusing saat membacanya. 

Buku ini termasuk karya yang cukup fenomenal. Bahkan, Cerita ini diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Tapi jujur, aku tidak akan menonton filmnya kecuali memang 'mengharuskan'. 

Sekian, Review singkat tentang Girl on The Train