#Love,
#AcupofCofee
#Memory
Aku ingat, Tentu saja.
Saat itu, kita masih begitu polos. Secara tidak sengaja, kita duduk di bangku yang sama dalam sebuah ibadah yang sakral.
Aku ingat, saat itu aku duduk diujung kursi dan kamu diujung yang lain. Saat itu, aku mulai tertarik dengan kehadiranmu. Ada sesuatu seperti magnet yang membuatku terus menatapmu. teman-temanmu menggangguku. Namun aku tidak peduli karena aku hanya terusik oleh kehadiranmu. Oleh wajah teduhmu yang selalu memandang ke depan.
Aku ingat. Tapi, apakah kamu ingat juga?
Sejak saat itu, aku mulai menyadari keberadaanmu. Namun aku tidak mengenalmu. Bahkan aku belum mengetahui bahwa pertemuan itu adalah bibit yang akan menggeroti hatiku dengan sebuah rasa yang abstrak. bibit yang terlempar akibat sebuah ketidaksengajaan.
Setahun berlalu. Aku dan kamu, hubungan antara kita masih sekedar bayang-bayang. Namun siapa yang menyangka? Bahwa bayang-bayang itu akan menjadi nyata. Aku dan kamu. Dalam nuansa yang mereka sebut sebagai cinta monyet.
Aku tidak berusaha untuk mencari tahu. Namun lagi, sebuah ketidaksengajaan membuatku harus tahu namamu. Nama yang dielukan oleh teman-teman sepermainanku. Nama yang ternyata adalah dirimu. laki-laki berwajah teduh itu.
Padahal aku yakin bahwa kalian tahu aku menyukainya sejak kulihat wajah teduhnya. Namun aku selalu membantah. Teman sepermainanku mengatakan bahwa kamu memiliki pahatan yang indah di wajahmu. Namun menurut ku tidak. aku tidak menyukai keindahan. aku menyukai keteduhan.
Karena keteduhan artinya menghilangkan makna panas dan dingin.
Sejak itu. Sejak itu aku mulai menyadari apa artinya menyukai. Aku mulai memahami apa artinya merindu. Aku mulai menghayati apa artinya rasa. Dan aku mulai memahami apa artinya doa yang kulontarkan untukmu.
Dan aku mulai menikmati hayalan tentang kita. Kita yang bersama. kita yang bahagia. Kita yang ternyata tidak pernah terwujud.
Perlahan, aku mengetahui, rasaku terbalas. Dan aku ingat. Sangat ingat. Sangat dan sangat ingat. Aku sangat bahagia. Aku menyukaimu, dan kamu, kamu membalas perasaanku.
Apakah kamu ingat akan rasa itu? jika ya, kemana kamu sembunyikan rasa itu? jika tidak, kemana kamu buang rasa itu?
Kamu penyemangatku disaat aku membuka mata. Kamu penenangku saat ku pejamkan mata menyambut dunia mimpi yang sudah pasti dipenuhi oleh keteduhanmu.
Aku sangat bahagia. aku ingat. Namun, saat ini aku tidak tahu dimana kebahagian itu.
Semua tidak berjalan lama. Atau mereka bilang tidak ada yang abadi. Kamu pergi, menggapai jenjang yang lebih tinggi. Dalam berbagai kesempatanpun, Kamu seakan menjauh. Dan kita yang tidak pernah menyatupun semakin melepas.
Kamu dalam dunia kegelapan dan Aku dengan hati yang masih mencari serpihan yang kamu bawa.
Sembilan tahun terlewat sudah. Serpihan hatiku tidak pernah kembali. Dan saat aku ingin memintanya lagi kepada kamu, kamu sudah memberikan serpihan hatiku kepada orang lain.
tidak tahukan kamu bahwa rasanya sakit? sembilan tahun tanpa hati yang utuh?
Tapi sepertinya kamu memang lupa terhadap rasa itu.
Dan bodohnya, aku masih bertahan dalam rasa. Bahkan aku enggan untuk meminta pendapatmu bagaimana untuk membuang rasa ini.
Sembilan tahun. Sembilan tahun aku masih disini. Menunggu serpihan hati lain yang datang. Meski aku tahu, jika serpihan lain itu datang, hatiku sudah tidak dapat utuh lagi.
dan sembilan tahun, semua cerita ini terjadi selama sembilan tahun.
Jakarta 2007-2009 (Dedicated for the one that i waiting for but i know, he will never com)